12 Juli 2010
Senin...
Hari ini saatnya untuk kembali lagi ke RS Petrokimia, menuju ke Poli Rawat Luka.

Aku berangkat bersama adikku, Tia, sekitar jam 11an.
Sampai di RS, aku segera registrasi dan mendapatkan no urut 4 untuk poli rawat luka. Setelah itu, aku segera menuju ke kantor poli untuk mendaftarkan diri, namun ternyata orang yang bertugas di poli rawat luka tidak ada sehingga aku pun disuruh untuk menunggu.
Hm...cukup lama juga menunggunya, hampir setengah jam baru namaku dipanggil. Aku langsung masuk dan mulailah proses pembukaan perban.
Proses pembukaanperban berlangsung teramat singkat, entah benar atau cuma perasaanku saja, susternya seperti diburu waktu jadi tergesa-gesa menangani lukaku ini, tidak seperti suster-suster yang dulu-dulu yang merawat lukaku ini. Alhamdulillah tidak sakit karena lukaku memeang sudah kering, tapi coba bayangkan kalau lukaku ini masih belum kering sepenuhnya atau bahkan masih basah maka aku pasti akan menjerit-jerit kesakitan karenannya. Lukaku yang sudah kering ini tidak diperban lagi, kata susternya sudah tidak perlu. Hiyaaaaaaaaaaa... kalau cuma dibuka ajah seperti itu aku juga bisa ngerjain sendiri di rumah, gak perlu repot-repot pergi ke RS dan mengantri lama.
Senin...
Hari ini saatnya untuk kembali lagi ke RS Petrokimia, menuju ke Poli Rawat Luka.

Aku berangkat bersama adikku, Tia, sekitar jam 11an.
Sampai di RS, aku segera registrasi dan mendapatkan no urut 4 untuk poli rawat luka. Setelah itu, aku segera menuju ke kantor poli untuk mendaftarkan diri, namun ternyata orang yang bertugas di poli rawat luka tidak ada sehingga aku pun disuruh untuk menunggu.
Hm...cukup lama juga menunggunya, hampir setengah jam baru namaku dipanggil. Aku langsung masuk dan mulailah proses pembukaan perban.
Proses pembukaanperban berlangsung teramat singkat, entah benar atau cuma perasaanku saja, susternya seperti diburu waktu jadi tergesa-gesa menangani lukaku ini, tidak seperti suster-suster yang dulu-dulu yang merawat lukaku ini. Alhamdulillah tidak sakit karena lukaku memeang sudah kering, tapi coba bayangkan kalau lukaku ini masih belum kering sepenuhnya atau bahkan masih basah maka aku pasti akan menjerit-jerit kesakitan karenannya. Lukaku yang sudah kering ini tidak diperban lagi, kata susternya sudah tidak perlu. Hiyaaaaaaaaaaa... kalau cuma dibuka ajah seperti itu aku juga bisa ngerjain sendiri di rumah, gak perlu repot-repot pergi ke RS dan mengantri lama.
Gambar 1. Jempol Kakiku yang Sudah Kering (1 minggu lebih 2 hari)

waduh nit koq horor gitu... ;(
BalasHapuscepet sembuh ya neng... :)
hahahhahaha... bencana datangnya memang tiba-tiba..
BalasHapusthanks Der, ni skrg dah bisa beraktivitas seperti biasa :)